TUGAS
KELOMPOK

“KOMPOSISI SENYAWA KIMIA DALAM
BAHAN BANGUNAN”

DISUSUN OLEH
KELOMPOK IX
KELAS X.3
NAMA KELOMPOK
SMAN
1 SUNGGUMINASA
TAHUN
AJARAN 2011/2012
KATA
PENGANTAR
Puji syukur saya
panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat-Nyalah dan karunia-Nyalah
kami dapat menyelesaikan Makalah Kimia ini yang berjudul “KOMPOSISI SENYAWA
KIMIA DALAM BAHAN BANGUNAN” Semoga dengan makalah ini kami dapat lebih mengerti
dan memahami tentang materi tersebut. Saya juga sangat berterima kasih kepada
guru pembimbing saya yaitu kak Dian dan orang-orang yang ikut berperan dalam
membantu kami membuat makalah ini, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini
dengan tepat waktu.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembacanya. Saya juga mengharapkan kritik dan saran dari Bapak/Ibu/kakak guru, sehingga makalah ini lebih sempurna lagi. Atas perhatian dan kerja samanya saya ucapkan terima kasih.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembacanya. Saya juga mengharapkan kritik dan saran dari Bapak/Ibu/kakak guru, sehingga makalah ini lebih sempurna lagi. Atas perhatian dan kerja samanya saya ucapkan terima kasih.
Sungguminasa,
Mei 2012
Kelompok
IX
KOMPOSISI
SENYAWA KIMIA DARI BAHAN BANGUNAN
Dalam
kehidupan sehari-hari tentulah manusia membutuhkan tempat tinggal seperti
rumah, dan rumah yang kita tempati tidak terlepas dari bahan kimia seperti
semen,kayu,cat,kaca, dan pralon untuk pipa air.
1. SEMEN
Langkah Utama Proses
Produksi Semen adalah:
1. Penggalian/Quarrying:Terdapat dua jenis material yang penting bagi produksi semen: yang pertama adalah yang kaya akan kapur atau material yang mengandung kapur (calcareous materials) seperti batu gamping, kapur, dll., dan yang kedua adalah yang kaya akan silika atau material mengandung tanah liat (argillaceous materials) seperti tanah liat. Batu gamping dan tanah liat dikeruk atau diledakkan dari penggalian dan kemudian diangkut ke alat penghancur.
2. Penghancuran: Penghancur bertanggung jawab terhadap pengecilan ukuran primer bagi material yang digali.
3. Pencampuran Awal: Material yang dihancurkan melewati alat analisis on-line untuk menentukan komposisi tumpukan bahan.
4. Penghalusan dan Pencampuran Bahan Baku: Sebuah belt conveyor mengangkut tumpukan yang sudah dicampur pada tahap awal ke penampung, dimana perbandingan berat umpan disesuaikan dengan jenis klinker yang diproduksi. Material kemudian digiling sampai kehalusan yang diinginkan.
5. Pembakaran dan Pendinginan Klinker: Campuran bahan baku yang sudah tercampur rata diumpankan ke pre-heater, yang merupakan alat penukar panas yang terdiri dari serangkaian siklon dimana terjadi perpindahan panas antara umpan campuran bahan baku dengan gas panas dari kiln yang berlawanan arah. Kalsinasi parsial terjadi pada pre‐heater ini dan berlanjut dalam kiln, dimana bahan baku berubah menjadi agak cair dengan sifat seperti semen. Pada kiln yang bersuhu 1350-1400°C, bahan berubah menjadi bongkahan padat berukuran kecil yang dikenal dengan sebutan klinker, kemudian dialirkan ke pendingin klinker, dimana udara pendingin akan menurunkan suhu klinker hingga mencapai 100 °C.
6. Penghalusan Akhir: Dari silo klinker, klinker dipindahkan ke penampung klinker dengan dilewatkan timbangan pengumpan, yang akan mengatur perbandingan aliran bahan terhadap bahan-bahan aditif. Pada tahap ini, ditambahkan gipsum ke klinker dan diumpankan ke mesin penggiling akhir. Campuran klinker dan gipsum untuk semen jenis 1 dan campuran klinker, gipsum dan posolan untuk semen jenis P dihancurkan dalam sistim tertutup dalam penggiling akhir untuk mendapatkan kehalusan yang dikehendaki. Semen kemudian dialirkan dengan pipa menuju silo semen.
Kandungan kimia yang terdapat pada semen :
• Trikalsium Silikat
• Dikalsium Silikat
• Trikalsium Aluminat
• Tetrakalsium Aluminofe
• Gipsum
1. Penggalian/Quarrying:Terdapat dua jenis material yang penting bagi produksi semen: yang pertama adalah yang kaya akan kapur atau material yang mengandung kapur (calcareous materials) seperti batu gamping, kapur, dll., dan yang kedua adalah yang kaya akan silika atau material mengandung tanah liat (argillaceous materials) seperti tanah liat. Batu gamping dan tanah liat dikeruk atau diledakkan dari penggalian dan kemudian diangkut ke alat penghancur.
2. Penghancuran: Penghancur bertanggung jawab terhadap pengecilan ukuran primer bagi material yang digali.
3. Pencampuran Awal: Material yang dihancurkan melewati alat analisis on-line untuk menentukan komposisi tumpukan bahan.
4. Penghalusan dan Pencampuran Bahan Baku: Sebuah belt conveyor mengangkut tumpukan yang sudah dicampur pada tahap awal ke penampung, dimana perbandingan berat umpan disesuaikan dengan jenis klinker yang diproduksi. Material kemudian digiling sampai kehalusan yang diinginkan.
5. Pembakaran dan Pendinginan Klinker: Campuran bahan baku yang sudah tercampur rata diumpankan ke pre-heater, yang merupakan alat penukar panas yang terdiri dari serangkaian siklon dimana terjadi perpindahan panas antara umpan campuran bahan baku dengan gas panas dari kiln yang berlawanan arah. Kalsinasi parsial terjadi pada pre‐heater ini dan berlanjut dalam kiln, dimana bahan baku berubah menjadi agak cair dengan sifat seperti semen. Pada kiln yang bersuhu 1350-1400°C, bahan berubah menjadi bongkahan padat berukuran kecil yang dikenal dengan sebutan klinker, kemudian dialirkan ke pendingin klinker, dimana udara pendingin akan menurunkan suhu klinker hingga mencapai 100 °C.
6. Penghalusan Akhir: Dari silo klinker, klinker dipindahkan ke penampung klinker dengan dilewatkan timbangan pengumpan, yang akan mengatur perbandingan aliran bahan terhadap bahan-bahan aditif. Pada tahap ini, ditambahkan gipsum ke klinker dan diumpankan ke mesin penggiling akhir. Campuran klinker dan gipsum untuk semen jenis 1 dan campuran klinker, gipsum dan posolan untuk semen jenis P dihancurkan dalam sistim tertutup dalam penggiling akhir untuk mendapatkan kehalusan yang dikehendaki. Semen kemudian dialirkan dengan pipa menuju silo semen.
Kandungan kimia yang terdapat pada semen :
• Trikalsium Silikat
• Dikalsium Silikat
• Trikalsium Aluminat
• Tetrakalsium Aluminofe
• Gipsum
Contoh
bahan kimia di bidang papan adalah semen Portland dan batu kapur. Semen
Portland mula-mula dibuat di inggris pada awal tahun 1800. Dinamai Portland
karena sifatnya mirip dengan batuan yang tambang di pulau Portland.
Semen
Portland merupakan campuran kompleks dari kalsium silikat dan aluminat. Semen
ini di bentuk melalui memanasan batu kapur pada temperature 1500 derajat celcius
dengan bahan-bahan yang kaya silica (SiO2) dan aumina (Al2O3)
sebelum digunakan, hasil pemanasan itu dihaluskan terlebih dahulu.
Reaksi
antara semen dan air yang diikuti dengan pengerasan cukup rumit. Reaksi
tertentu dapat berlangsung sesaat setelah percampuran semen dengan air dan
diikuti dengan reaksi lain yang memerlukan waktu bulanan. Karena hanya air yang
diperlukan untuk mengeraskan semen Portland, semen ini diserbut semen
hidraulik. Semen akan memadat walaupun direndam air, misalnya dalam kontruksi
jembatan.
Namun,
semen murni tidak memiliki kekuatan besar sehingga penggunaanya selalu dicampur
dengan pasir dan kerikil, campuran antara semen, pasir, dan kerikil disebuat
beton.
Batu
kapur adalah bentuk CaCO3 nalami yang mengandung tanah liat dan pengotor
lainnya. Jika ingin mendapatan CaCO3 murni, diperlukan :
1.
dekomposisi termal batu kapur (kalsinasi) ;
Ø CaCO3
(s) CaO(s)+CO2(g)
2.
Reaksi CaO dengan air “slaking” dan :
Ø CaO(s)
+ H2O(l)
Ca(OH)2(s)
3.
Konversi Ca(OH)2 menjaddi CaCO3 yang mengendap
(karbonasi)
Ø Ca(OH)2(s)+CO2(g) CaCO3(s)+H2O(l)
Penggunaan
batu kapur yang telah diendapkan adalah sebagai lapisan untuk memberi
kecerahan, memberikan warna putih, dan kualitas penyerapan yang baik pada
kertas.
Kardiyono (1996: 6)
menyebutkan bahwa pada dasarnya dapat disebutkan 4 unsur yang paling penting
dari Portland Cement adalah:
(1) Trikalsium Silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2
(2) Dikalsium Silikat (C2S) atau 2CaO.SiO2
(3) Trikalsium Aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3
(4) Tetrakalsium Aluminoferit (C4AF) atau 4CaO.Al2O3.FeO3
Menurut Sagel et al (1994:1) “Semen Portland adalah semen hidrolis yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidraulis bersama bahan-bahan tambahan yang biasa digunakan yaitu gypsum”. Selanjutnya Nawy (1990: 9) memberikan pengertian semen portland (PC) adalah :
Semen portland dibuat dari serbuk halus mineral kristalin yang komposisi utamanya adalah kalsium atau batu kapur (CaO), Alumunia (Al2O3), Pasir silikat (SiO2) dan bahan biji besi (FeO2) dan senyawa-senyawa MgO dan SO3, penambahan air pada mineral ini akan menghasilkan suatu pasta yang jika mengering akan mempunyai kekuatan seperti batu.
Apabila butiran-butiran Portland Cement berhubungan dengan air, maka butiran-butiran tersebut akan pecah-pecah dengan sempurna sehingga menjadi hidrasi dan membentuk adukan semen. Jika adukan tersebut ditambah dengan pasir dan kerikil yang diaduk bersama akan menghasilkan adukan beton. Ismoyo (1996: 156) mengatakan, “Semen portland adalah sebagai bahan pengikat yang melihat dengan adanya air dan mengeras secara hidrolik”. Selanjutnya Murdock dan Brook (1991: 66) mengatakan :
Semen adalah suatu jenis bahan yang memiliki sifat (adhesif) dan kohesif (cohesive) yang memungkinkan melekatnya fragmen-fragmen mineral menjadi suatu massa yang padat. Meskipun definisi ini dapat diterapkan untuk banyak jenis bahan, semen yang dimaksudkan untuk konstruksi beton bertulang adalah bahan jadi dan mengeras dengan adanya air yang dinamakan semen hidrolis (hidrolic cements).
Dari beberapa pendapat tentang sifat semen dapat diambil pengertian bahwa semen portland adalah suatu bahan pengikat yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif yang memungkinkan fragmen-fragmen mineral saling melekat satu sama lain apabila dicampur dengan air dan selanjutnya mengeras membentuk massa yang padat.
Semen hidrolis meliputi semen portland, semen putih dan semen alumunia. Untuk pembuatan beton digunakan semen portland dan semen portland pozzoland. Semen portland merupakan semen hidrolis yang dihasilkan dari bahan kapur dan bahan lempung yang dibakar sampai meleleh, setelah terbentuk klinker yang kemudian dihancurkan, digerus dan ditambah dengan gips dalam jumlah yang sesuai. Sedangkan semen portland pozzoland adalah semen yang dibuat dengan menggilang bersama-sama klinker semen portland dan bahan yang mempunyai sifat pozzoland (Kardiyono, 1996: 11).
Semen portland yang digunakan sebagai bahan struktur harus mempunyai kualitas yang sesuai dengan ketepatan agar berfungsi secara efektif. Pemeriksaaan dilakukan terhadap yang masih berupa bentuk kering, pasta semen yang telah keras, dan beton yang dibuat darinya.
(1) Trikalsium Silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2
(2) Dikalsium Silikat (C2S) atau 2CaO.SiO2
(3) Trikalsium Aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3
(4) Tetrakalsium Aluminoferit (C4AF) atau 4CaO.Al2O3.FeO3
Menurut Sagel et al (1994:1) “Semen Portland adalah semen hidrolis yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidraulis bersama bahan-bahan tambahan yang biasa digunakan yaitu gypsum”. Selanjutnya Nawy (1990: 9) memberikan pengertian semen portland (PC) adalah :
Semen portland dibuat dari serbuk halus mineral kristalin yang komposisi utamanya adalah kalsium atau batu kapur (CaO), Alumunia (Al2O3), Pasir silikat (SiO2) dan bahan biji besi (FeO2) dan senyawa-senyawa MgO dan SO3, penambahan air pada mineral ini akan menghasilkan suatu pasta yang jika mengering akan mempunyai kekuatan seperti batu.
Apabila butiran-butiran Portland Cement berhubungan dengan air, maka butiran-butiran tersebut akan pecah-pecah dengan sempurna sehingga menjadi hidrasi dan membentuk adukan semen. Jika adukan tersebut ditambah dengan pasir dan kerikil yang diaduk bersama akan menghasilkan adukan beton. Ismoyo (1996: 156) mengatakan, “Semen portland adalah sebagai bahan pengikat yang melihat dengan adanya air dan mengeras secara hidrolik”. Selanjutnya Murdock dan Brook (1991: 66) mengatakan :
Semen adalah suatu jenis bahan yang memiliki sifat (adhesif) dan kohesif (cohesive) yang memungkinkan melekatnya fragmen-fragmen mineral menjadi suatu massa yang padat. Meskipun definisi ini dapat diterapkan untuk banyak jenis bahan, semen yang dimaksudkan untuk konstruksi beton bertulang adalah bahan jadi dan mengeras dengan adanya air yang dinamakan semen hidrolis (hidrolic cements).
Dari beberapa pendapat tentang sifat semen dapat diambil pengertian bahwa semen portland adalah suatu bahan pengikat yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif yang memungkinkan fragmen-fragmen mineral saling melekat satu sama lain apabila dicampur dengan air dan selanjutnya mengeras membentuk massa yang padat.
Semen hidrolis meliputi semen portland, semen putih dan semen alumunia. Untuk pembuatan beton digunakan semen portland dan semen portland pozzoland. Semen portland merupakan semen hidrolis yang dihasilkan dari bahan kapur dan bahan lempung yang dibakar sampai meleleh, setelah terbentuk klinker yang kemudian dihancurkan, digerus dan ditambah dengan gips dalam jumlah yang sesuai. Sedangkan semen portland pozzoland adalah semen yang dibuat dengan menggilang bersama-sama klinker semen portland dan bahan yang mempunyai sifat pozzoland (Kardiyono, 1996: 11).
Semen portland yang digunakan sebagai bahan struktur harus mempunyai kualitas yang sesuai dengan ketepatan agar berfungsi secara efektif. Pemeriksaaan dilakukan terhadap yang masih berupa bentuk kering, pasta semen yang telah keras, dan beton yang dibuat darinya.
2.KAYU
Kayu mengandung senyawa utama selulosa yang termasuk golongan polisakarida dengan monomer glukosa. Selulosa memiliki ikatan glukosa yang berbeda disbanding dengan amilum pada beras.
Kayu dipergunakan antara lain untuk pembuatan tiang penyangga bangunan, pintu, jendela, meja, kursi dan interior rumah.
3. CAT
Kayu mengandung senyawa utama selulosa yang termasuk golongan polisakarida dengan monomer glukosa. Selulosa memiliki ikatan glukosa yang berbeda disbanding dengan amilum pada beras.
Kayu dipergunakan antara lain untuk pembuatan tiang penyangga bangunan, pintu, jendela, meja, kursi dan interior rumah.
3. CAT
Untuk
memberi warna pada tembok dan kayu digunakan cat yang berbeda. Daya lekat cat
untuk kayu jauh lebih kuat dibandingkan daya lekat cat untuk tembok.
a. Cat tembok
Cat tembok dirancang agar memiliki daya lekat yang lebih kuat dibandingkan kapur. Akan tetapi, cat ini tidak dapat mencegah keropos pada kayu atau karat pada besi.
Bahan baku cat tembok terdiri atas kalsium karbonat (CaCO), titanium dioksida (TiO2), PVAC (poly vinyl acrylic), kaolin, pigmen, pine oil, dan air.
a. Cat tembok
Cat tembok dirancang agar memiliki daya lekat yang lebih kuat dibandingkan kapur. Akan tetapi, cat ini tidak dapat mencegah keropos pada kayu atau karat pada besi.
Bahan baku cat tembok terdiri atas kalsium karbonat (CaCO), titanium dioksida (TiO2), PVAC (poly vinyl acrylic), kaolin, pigmen, pine oil, dan air.
b. Cat
Kayu/besi
Cat kayu/besi dirancang agar dapat melekat pada permukaan kayu atau besi dengan baik. Bahan baku cat kayu/besi hampir sama dengan cat tembok. Perbedaannya, pada cat kayu/besi ditambahkan lateks (getah karet). Adapun pelarut yang digunakan adalah terpentin (minyak cat) karena terpentin dapat melarutkan lateks.
Cat kayu/besi dirancang agar dapat melekat pada permukaan kayu atau besi dengan baik. Bahan baku cat kayu/besi hampir sama dengan cat tembok. Perbedaannya, pada cat kayu/besi ditambahkan lateks (getah karet). Adapun pelarut yang digunakan adalah terpentin (minyak cat) karena terpentin dapat melarutkan lateks.
4. KACA
Cermin awalmya terbuat dari
kepingan atau lembaran (logam) mengkilap, biasanya (logam perak) atau (tembaga)
apabila bayangan yang dipantullan kembali adalah untuk dilihat tetapi juga bisa
dari logam lain apabila hanya digunakan untuk memfokuskan cahaya.
Kebanyakan cermin moden
terdiri dari lapisan tipis (aluminium) disalut dengan kepingan (kaca). Cermin
ini disebut "sepuh belakang" (''back silvered''), di mana permukaan
memantul dilihat melalui kepingan kaca. Pelapisan cermin dengan kaca membuat
cermin tahan, tetapi mengurangi kualitas cermin karena tambahan biasan
permukaan depan kaca. Cermin seperti ini membalikkan sekitar 80% dari cahaya
yang datang. "Bagian belakang" cermin sering dicat hitam sepenuhnya
untuk melindung logam dari pengikisan.
(Teleskop) dan peralatan
optik yang lain menggunakan cermin “sepuh depan" (''front silvered''), di
mana permukaan pemantul diletakan di permukaan kaca, yang memberikan kualitas
bayangan lebih baik. kadang perak digunakan, tetapi kebanyakannya cermin ini
menggunakan aluminum, yang memantulkan gelombang pendek lebih baik dari perak.
Cermin sepuh depan
memantulkan 90% hingga 95% dari cahaya datang. Karena logam berkarat dengan
adanya [[oksigen]] dan kelembapan, cermin sepuh hadapan perlu diganti
permukaannya secara berulang untuk mempertahankan kualitas. Cara lain adalah,
tentunya, menggunakan tempat vakum untuk menaruh cermin ini.
Bahan baku kaca terdiri dari atas pasir kaca atau pasir kuarsa (pasir yang mengandung senyawa silicon dioksida, SiO2), soda abu (Na¬2CO3), feldspar, boraks, dan senyawa lain yang ditambahkan dalam jumlah sedikit.
Komponen kimia terbesar dalam kaca (lebih dari 70%) adalah silicon dioksida (NaO2). Natrium dioksida (NaO2), kalsium oksida (CaO), alumunium oksida (A12O3), dan magnesium oksida (MgO).
Pasir kaca tidak boleh mengandung kadar besi lebih dari 0,45% karena akan merusak warna kaca. Feldspar yang mengandung A12O3 ditambahkan untuk menurunkan titik lebur kaca. Adapun boraks digunakan sebagai pengemas yang membuat kaca menjadi tahan terhadap zat kimia.
Bahan baku kaca terdiri dari atas pasir kaca atau pasir kuarsa (pasir yang mengandung senyawa silicon dioksida, SiO2), soda abu (Na¬2CO3), feldspar, boraks, dan senyawa lain yang ditambahkan dalam jumlah sedikit.
Komponen kimia terbesar dalam kaca (lebih dari 70%) adalah silicon dioksida (NaO2). Natrium dioksida (NaO2), kalsium oksida (CaO), alumunium oksida (A12O3), dan magnesium oksida (MgO).
Pasir kaca tidak boleh mengandung kadar besi lebih dari 0,45% karena akan merusak warna kaca. Feldspar yang mengandung A12O3 ditambahkan untuk menurunkan titik lebur kaca. Adapun boraks digunakan sebagai pengemas yang membuat kaca menjadi tahan terhadap zat kimia.
5. Pralon Air Pipa
Untuk saluran air banyak digunakan pipa pralon. Pipa ini merupakan
senyawa polimer polivinil klorida yang disingkat PVC. Polimer ini dibuat dari
hasil reaksi monomer vinil klorida yang memiliki rumus kimia CH2 = CHCl.
PVC dihasilkan dari dua jenis bahan baku utama: minyak bumi
dan garam dapur (NaCl). Minyak bumi diolah melalui proses pemecahan molekul
yang disebut cracking menjadi berbagai macam zat, termasuk etilena ( C2H4 ),
sementara garam dapur diolah melalui proses elektrolisa menjadi natrium
hidroksida (NaOH) dan gas klor (Cl2). Etilena kemudian direaksikan dengan gas
klor menghasilkan etilena diklorida (CH2Cl-CH2Cl). Proses cracking/pemecahan
molekul etilena diklorida menghasilkan gas vinil klorida (CHCl=CH2) dan asam
klorida (HCl). Akhirnya, melalui proses polimerisasi (penggabungan molekul yang
disebut monomer, dalam hal ini vinil klorida) dihasilkan molekul raksasa dengan
rantai panjang (polimer): polivinil klorida (PVC), yang berupa bubuk halus
berwarna putih. Masih diperlukan satu langkah lagi untuk mengubah resin PVC
menjadi berbagai produk akhir yang bermanfaat.
Penampakan resin PVC sangat mirip dengan tepung terigu. Dan resin PVC memang dapat dianalogikan seperti tepung terigu: keduanya tidak dapat digunakan dalam bentuk aslinya. Seperti halnya tepung terigu yang harus diolah dengan mencampurkan berbagai kandungan lain hingga menjadi kue tart dan berbagai jenis roti yang menarik, resin PVC juga harus diolah dengan mencampurkan berbagai jenis zat aditif hingga dapat menjadi berbagai jenis produk yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
PVC dan Lingkungan Hidup
Telah menjadi mitos bahwa khususnya pembakaran sampah PVC memberikan kontribusi yang besar terhadap terjadinya dioxin. Dioxin dapat dihasilkan dari pembakaran bahan-bahan organoklorin, yang sebenarnya banyak terdapat di alam (dedaunan, pepohonan). Suatu penelitian yang dilakukan oleh New York Energy Research and Development Authority pada tahun 1987 menyimpulkan bahwa ada atau tidaknya sampah PVC tidak berpengaruh terhadap banyaknya dioxin yang dihasilkan dalam proses insinerasi/pembakaran sampah. Kontribusi terbesar bagi terjadinya dioxin adalah kebakaran hutan, hal yang justru tidak banyak diekspos.
Kandungan klor (Cl) dalam PVC diketahui memberikan sifat-sifat yang unik bagi bahan ini. Tidak seperti umumnya bahan plastik yang merupakan 100% turunan dari minyak bumi, sekitar 50% berat PVC adalah dari komponen klor-nya, yang menjadikannya sebagai bahan plastik yang paling sedikit mengkonsumsi minyak bumi dalam proses pembuatannya. Relatif rendahnya komponen minyak bumi dalam PVC menjadikannya secara ekonomis lebih tahan terhadap krisis minyak bumi yang akan terjadi di masa datang serta menjadikannya sebagai salah satu bahan yang paling ramah lingkungan.
Walaupun PVC merupakan bahan plastik dengan volume pemakaian kedua terbesar di dunia, sampah padat di negara-negara maju yang paling banyak menggunakan PVC-pun hanya mengandung 0,5% PVC. Hal ini dikarenakan volume pemakaian terbesar PVC adalah untuk aplikasi-aplikasi berumur panjang, seperti pipa dan kabel. Sampah PVC juga dapat diolah secara konvensional, seperti daur-ulang, ditanam dan dibakar dalam insinerator (termasuk pembakaran untuk menghasilkan energi).
PVC juga dianggap menguntungkan untuk aplikasi sebagai pembungkus (packaging). Suatu studi pada tahun 1992 tentang pengkajian daur-hidup berbagai pembungkus/wadah dari gelas, kertas kardus, kertas serta berbagai jenis bahan plastik termasuk PVC menyimpulkan bahwa PVC ternyata merupakan bahan yang memerlukan energi produksi terendah, emisi karbon dioksida terendah, serta konsumsi bahan bakar dan bahan baku terendah diantara bahan plastik lainnya. Bahkan sebuah kelompok pecinta lingkungan Norwegia, Bellona, menyimpulkan bahwa pengurangan penggunaan bahan PVC secara umum akan memperburuk kualitas lingkungan hidup.
Penampakan resin PVC sangat mirip dengan tepung terigu. Dan resin PVC memang dapat dianalogikan seperti tepung terigu: keduanya tidak dapat digunakan dalam bentuk aslinya. Seperti halnya tepung terigu yang harus diolah dengan mencampurkan berbagai kandungan lain hingga menjadi kue tart dan berbagai jenis roti yang menarik, resin PVC juga harus diolah dengan mencampurkan berbagai jenis zat aditif hingga dapat menjadi berbagai jenis produk yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
PVC dan Lingkungan Hidup
Telah menjadi mitos bahwa khususnya pembakaran sampah PVC memberikan kontribusi yang besar terhadap terjadinya dioxin. Dioxin dapat dihasilkan dari pembakaran bahan-bahan organoklorin, yang sebenarnya banyak terdapat di alam (dedaunan, pepohonan). Suatu penelitian yang dilakukan oleh New York Energy Research and Development Authority pada tahun 1987 menyimpulkan bahwa ada atau tidaknya sampah PVC tidak berpengaruh terhadap banyaknya dioxin yang dihasilkan dalam proses insinerasi/pembakaran sampah. Kontribusi terbesar bagi terjadinya dioxin adalah kebakaran hutan, hal yang justru tidak banyak diekspos.
Kandungan klor (Cl) dalam PVC diketahui memberikan sifat-sifat yang unik bagi bahan ini. Tidak seperti umumnya bahan plastik yang merupakan 100% turunan dari minyak bumi, sekitar 50% berat PVC adalah dari komponen klor-nya, yang menjadikannya sebagai bahan plastik yang paling sedikit mengkonsumsi minyak bumi dalam proses pembuatannya. Relatif rendahnya komponen minyak bumi dalam PVC menjadikannya secara ekonomis lebih tahan terhadap krisis minyak bumi yang akan terjadi di masa datang serta menjadikannya sebagai salah satu bahan yang paling ramah lingkungan.
Walaupun PVC merupakan bahan plastik dengan volume pemakaian kedua terbesar di dunia, sampah padat di negara-negara maju yang paling banyak menggunakan PVC-pun hanya mengandung 0,5% PVC. Hal ini dikarenakan volume pemakaian terbesar PVC adalah untuk aplikasi-aplikasi berumur panjang, seperti pipa dan kabel. Sampah PVC juga dapat diolah secara konvensional, seperti daur-ulang, ditanam dan dibakar dalam insinerator (termasuk pembakaran untuk menghasilkan energi).
PVC juga dianggap menguntungkan untuk aplikasi sebagai pembungkus (packaging). Suatu studi pada tahun 1992 tentang pengkajian daur-hidup berbagai pembungkus/wadah dari gelas, kertas kardus, kertas serta berbagai jenis bahan plastik termasuk PVC menyimpulkan bahwa PVC ternyata merupakan bahan yang memerlukan energi produksi terendah, emisi karbon dioksida terendah, serta konsumsi bahan bakar dan bahan baku terendah diantara bahan plastik lainnya. Bahkan sebuah kelompok pecinta lingkungan Norwegia, Bellona, menyimpulkan bahwa pengurangan penggunaan bahan PVC secara umum akan memperburuk kualitas lingkungan hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Ø WWW.TIGASERANGKAI.CO.ID
Ø Sutresna,
Nana. 2006. Cerdas Belajar Kimia. Bandung : Grafindo
Ø j4ngandibuk4.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar